nawi arigi

Media Informasi Kabupaten Tolikara

nawi arigi

Media Informasi Kabupaten Tolikara

bupati-tolikara-usman
Norewi, o Nalenggon - Kalenggen, Lambunik Logonip, o.
Damai Wargaku Sejahtera Rakyatku

Usman G. Wanimbo, SE., M.Si

BUPATI KABUPATEN TOLIKARA

Norewi, o Nalenggon – Kalenggen, Lambunik Logonip, o.
Damai Wargaku Sejahtera Rakyatku

Usman G. Wanimbo, SE., M.Si

BUPATI KABUPATEN TOLIKARA

Berita Tolikara

Galeri

Pemerintah pusat Melalui Pemerintah Tolikara perlahan terus berupaya membagun akses insfrastruktur jaringan Komunikasi yakni Telkomsel di sejumlah daerah pelosok di Tolikara yang selama ini sulit berkomunikasi keluar maupun ke dalam.

kedepan warga Tolikara di pelosok – pelosok akan terakses berkomunikasi menggunakan HP dengan baik. Saat Tim survei telkomsel pusat Tomi didampingi Kadiskominfo Tolikara Derwes Y. turun survei di lapangan, masyarakat menyambutnya dengan penuh senang hati. Pembangunan tower telkomsel yang sudah di survei adalah Distrik Bokondini,Distrik Nabunage,Distrik Kanggime,Distrik Wunin,Distrik Poganeri. Mohon dukungan semua pihak, berikut fotonya.

 

Sejarah Kabupaten Tolikara

Richters
Richters&Larson arr
Karubaga Airstrip aa
Karubaga Airstrip aa

Menurut sejarah, pengembangan Kabupaten Tolikara dapat dilihat pada tiga periode yang berbeda yakni periode masa lampau, periode pendudukan kolonial dan periode globalisasi. Menurut para sejarahwan masa lampau bahwa Awal mula perkembangan penduduk Tolikara datang dari bagian Timur pengunungan tengah Papua tepatnya dari Kurima Wamena Jayawijaya hingga menyebar ke beberapa daerah bagian Barat,bagian Selatan,dan bagian Utara di pengunungan tengah Papua. pada masa itu penduduk Tolikara hidup menyebar di seluruh daerah Tolikara,kondisi hidup menyebar itu membuat penduduk Tolikara tidak memiliki seorang pemimpin yang bisa memimpin penduduk Tolikara seluruhnya. Namun di masing – masing komunitas memiliki seorang pemimpin yang di beri nama dengan “Nagawan dan Duma” diberi nama Nagawan karena ia seorang panglima perang yang mampu bertahan dan melawan dalam medan pertempuran peperangan yang datang dari luar maupun dari dalam,kemudian Duma karena selain ia sebagai seorang panglima perang ia juga seorang pendamai dan penolong pada saat perang maupun pada saat orang mengalami kesulitan. Kepercayaan penduduk Tolikara pada masa itu mempercayai animisme percaya pada gunung,dan lainnya.

Pada tahun 1950 Nederlandse Nieuw Guinea ( Tanah Papua) masih di kuasai oleh pemerintahan Kolonial Belanda, di daerah pesisir pantai telah di kuasai dengan baik, Namun di daerah pendalam pengunungan tidak dikuasai secara keseluruhan oleh pemerintah Belanda dengan pusat pemerintahan provinsi di kota Hollandia (Jayapura). Pada waktu Perang Dunia Kedua,Anggkatan Laut Amerika Serikat masuk daerah Hollandia (jayapura) untuk mengusir tentara Jepang(1930an). Diantara anggota Anggatan Laut itu terdapat seorang bernama Paul Gesswein,hatinya terharu waktu dia melihat dan faham bahwa  di pendalam Nieuw Guinea (Papua) terdapat ribuan orang yang belum di jangkau oleh pemerintahan Provinsi Nederlandse Nieuw Guinea (tanah Papua). Paul Gesswein Sesudah pemberhentiannya   dari  Anggkatan Laut AS Ia mempersiapkan diri kembali ke Nieuw Guinea dengan misi menjangkau orang pendalaman Nieuw Guinea dengan membawa Ajaran Agama Nasrani.  Di bawah naugan organisasi penyebaran ajaran Agama Nasrani RBMU (Region Beyond Missionary Union) dibentuk sejak 1878 yang berpusat di Amerika Serikat mengutus dua orang Paul Gesswein bersama istrinya Joy dan Bill Widbin bersama istrinya Mary  dari Amerika Serikat untuk berangkat ke Nederlandse Nieuw Guinea (Tanah Papua) dengan mengunakan kapal laut hingga tiba di pelabuhan Hollandia (Jayapura),12 Pebruari 1954.

peta dan suku lani
Peta dan Suku Lani

Setibahnya di Hollandia kedua Misionaris ini bergabung dengan organisasi lain yang sudah lebih dulu membuka pelayanan penyebaran ajaran nasrani diantaranya UFM(GKI),CAMA(KATOLIK),ABMS (BAPTIS),pada masa itu organisasi CAMA sudah mempunyai pesawat,sehingga dengan bantuan CAMA Paul gesswein dan Widbin bersama tim CAMA 19 orang mengunakan pesawat kapal Sealand MAF dengan  pilot Ed Ulrich tibah di sugai Balim dekat Hitigima. Pada 28 Januari 1955 rombongan itu mulai jalan kaki hingga tiba di Pyramid,selanjutnya berjalan kaki tiba di Walak melanjutkan perjalanan lagi hingga menemukan danau Archbold (Aanagom Nggwok) 21 Peb 1955. Setelah melihat  danau ini bisa di jadikan sebangai pusat lending pesawat Piper Pacer sehingga  danau ini di jadikan sebangai pusat mengangkut kebutuhan sehari-hari dan lainnya,tidak lama kemuadian mereka tibah di tanah Bokondini di sambut baik oleh penduduk Bokondini,dan dengan bantuan penduduk setempat mereka  membuka lapangan terbang dalam kurun waktu lima minggu, dan lapagan terbang tersebut selesai.pada 5 juni 1956. Untuk pertama kalinya  pilot dave Streiger (Yoramori diberinama orang Lani) turun bersama orang Departemen Penerangan Cipil Belanda menyetujui pemakaian lapangan itu.

Gesswein bersama Widbin Usai membuka lapangan terbang di Bokondini mereka mendengar cerita dari penduduk Bokondini bahwa di sebelah gunung arah barat ada lembah lebih luas dan didiami orang Toli. setelah menerima cerita itu Kedua Misionaris tersebut berkomitmen melakukan survey ke daerah Toli dengan berjalan kaki dari Bokondini hingga tibah di Karubaga menemui penduduk Kondaga (Karubaga) dan kehadiran mereka di sambut sangat baik oleh ratusan lebih warga Kondaga (Karubaga) pada bulan April tahun 1957. Karena di antara orang Toli pernah melihat dan ikut mengerjakan Lapangan Terbang Bokondini sehingga penduduk kondaga telah memperoleh informasih lebih awal bahwa ada orang kulit putih berada di bokondini  dan suatu saat mereka pasti akan datang di daerah Toli,informasi awal baik itulah yang membuat kedua misionaris itu disambut sangat baik oleh penduduk kondaga (Karubaga).

sejarah-tolikara

Daerah Karubaga awalnya bernama daerah Kondaga, namun  Nama karubaga muncul ketika kedua misionaris Gesswein bersama Widbin tibah di Karubaga, saat itu penduduk Karubaga menyambut mereka dengan kata Kar karubaga,dalam bahasa orang Lani Kar artinya Kamu Karubaga artinya Jalanmu jadi pada saat warga kondaga menyambut mereka dengan kata Kar karubaga dengan maksud warga kondaga bahwa kamu bisa jalan dengan bebas jagan takut anggap saja jalan ini jalan milikmu sehingga kedua misionaris tersebut langsung mengabadikan kata itu dengan menamai daera ini Karubaga sehingga nama daerah ini awalnya kondaga berubah menjadi Karubaga. Gesswein dan Widbin sengaja meruba nama daerah ini menjadi karubaga untuk mengenang sejarah tentang jasa baik penyambutan warga kondaga sehingga sampai saat ini kita masih mengunakan nama kota ini Karubaga. Dengan bantuan penduduk Karubaga Gesswein dan Widbin membuka lapangan terbang Karubaga,dan lapangan terbang tersebut dikerjakan dengan swadaya penduduk karubaga dalam  waktu enam minggu sehingga pada 5 juni 1957 pesawat MAF pertama kalinya mendarat di Karubaga.

Selama Pemerintahan Kolonial Belanda menguasai daerah Papua,selama itu Pemerintahan Belanda belum membuka pos di daerah Toli,kecuali di lembah balim wamena,dan di beberapa tempat di papua lainnya. sejak RBMU tiba di daerah Toli,organisasi pengembangan ajaran agama nasrani ini mengembangkan pelayanan di daerah Toli  (Karubaga,Kanggime,Mamit/Kembu)

Pada akhir tahun 1962 Tanah Papua sudah masuk dalam masa transisi,sejak 01 Oktober 1962 kedaulatan Pemerintahan Belanda atas tanah Nederlands Neuw Guinea (tanah Papua) diserahkan kepada PBB (Perserikatan Bangsa – Bangsa),dan masa peralihan itu dipegang penuh dibawah pimpinan UNTEA. Pada 01 Mei 1963 tanah Papua resmi bergabung dengan Negara Republik Indonesia,sehingga  Pemerintahan Negara Republik Indonesia membentuk  9 (Sembilan) Kabupaten di Tanah Papua didalamnya termasuk Kabupaten Jayawijaya dengan pusat pemerintahan Provinsi papua (Provinsi Irian Jaya) di Jayapura. Sejak itu pula Pemerintah Kabupaten  Jayawijaya membuka pos (Distrik/Kecamatan) baru di daerah pengunungan Papua (pengunungan Irian Jaya)termasuk juga membuka Distrik baru Karubaga,dengan diangkatnya Imam soewardi orang suku jawa pertama menjadi kepala distrik/camat  pada bulan Desember 1965.

Siswa Alkitab pertama

Selama 37 tahun daerah Toli yang lebih luas ini dilayani dengan sebuah Distrik (Kecamatan)Karubaga, untuk melakukan pelayanan ke kampung-kampung pemerintah distrik mengalami kesulitan sehingga  pemerintah Kabupaten Jayawijaya membuka Pos pembantu di kanggime guna memperpendek rentang kendali pelayanan masyarakat. Sejak Distrik Karubaga di bentuk dibantu dengan sebuah pos pembantu di kanggime selama itu Pembangunan Infrastruktur dasar,peningkatan perekonomian warga,dan pelayanan kesehatan,serta peningkatan mutu pendidikan di daerah Toli tidak menunjukkan kemajuan yang meningkat,jutru daerah ini tergolong tertinggal jauh dari daerah lain di Indonesia yang sudah maju. Karenanya beberapa tokoh Politikus asal daerah Toli yang sudah pernah dan masih aktif menjadi Anggota DPRD Jayawijaya dan beberapa tokoh Pemerintah yang masih aktif menjadi PNS bersama beberapa  Tokoh masyarakat Toli berjuang membentuk sebuah Kabupaten baru untuk dimekarkan dari Kabupaten induk Jayawijaya,sehingga pada tahun 2002 berdasarkan Undang – undang Otonomi Khusus bagi Provinsi papua No.21 tahun 2001. Maka melalui  Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Sarmi, Kabupaten Keerom, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Waropen, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat, Kabupaten Teluk Bintuni dan Kabupaten Teluk Wondama di Provinsi Papua terbentuk.

UNTEA Envelope
UNTEA Envelope
logo-kabupaten-tolikara

Lambang Daerah

Mengenal Pemerintah Kabupaten Tolikara

Perisai bersudut lima

Sebagai dasar Lambang daerah bermakna Pancasila. Hal ini berarti bahwa Pemerintah Daerah berpegang teguh pada Pancasila sebagai Dasar dan falsafah hidup bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Padi sebanyak 17 ( tujuh belas ) butir berwarna kuning emas dan kapas sebanyak 8 (delapan) buah berwarna putih

Bermakna hari proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Padi dan Kapas juga merupakan simbol Pemenuhan kebutuhan Sandang dan Pangan bagi masyarakat dalam rangka peningkatan tingkat kesejahteraan. Adapun keterikatan melambangkan persatuan dan kesatuan.

Topografi dan Pemandangan alam

Sebagai gambaran geografi Tolikara yang terdiri dari deretan pegunungan yang hijau dan sejuk di mana daratan dan pegunungan dihiasi dengan dua aliran alur sungai yang jernih

Sebuah Konstruksi Rumah Adat dengan kombinasi dua bentuk atap Honai dan atap pelana berwarna cokelat

Melukiskan spesifikasi Rumah penduduk asli daerah pegunungan dan masyarakat Tolikara. Kombinasi konstruksi rumah adat mengandung pula arti Alfa dan Omega sebagai simbol kepercayaan masyarakat asli Tolikara.

Busur, tombak dan kapak bersatu membentuk perahu

Sebagai simbol alat perang dan alat pencarian nafkah masyarakat asli Tolikara sekaligus sebagai simbol alat transportasi guna menunjang kegiatan pembangunan Tolikara ke depan untuk menuju masyarakat adil, makmur dan sejahtera.

Buah Merah sebanyak lima buah

Melambangkan bahwa komoditas unggulan Kabupaten Tolikara adalah buah merah, dan lima buah menunjukkan lima asas yang ada dalam Dasar Negara Kita (Pancasila) juga menjadi dasar pelaksanaan Pembangunan di Kabupaten Tolikara. 

Gerbang Honai

Adalah pintu masuk pekarangan rumah yang memberikan gambaran “ Mari menuju Hidup Baru”  dengan membuka keterisolasian bahu-membahu bersama siapa saja untuk membangun Kabupaten Tolikara menuju sukses dengan cita-cita masyarakat untuk hidup damai dan berdampingan.

Sehelai pita berwarna kuning dengan tulisan Kabupaten Tolikara berwarna merah

Melambangkan Kabupaten Tolikara yang sah menurut undang-undang No.26 Tahun 2002 tentang Pemekaran 14 Kabupaten di Provinsi Papua.

Warna

Biru

Adalah lambang keluasan dan ketenangan yang mengandung arti bahwa Kabupaten Tolikara mempunyai wilayah yang luas menandakan  seluruh aktivitas dalam masyarakat Kabupaten Tolikara berdasarkan pada rasa tenggang rasa, toleransi yang tinggi dan kerukunan hidup yang menyeluruh dalam segala bidang dan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Tolikara kedepan, menjalankan tugas dengan penuh kebijaksanaan yang sejalan dengan aturan yang berlaku.

Kuning

Adalah lambang cita-cita kehidupan rakyat dimana Pemerintah Kabupaten Tolikara senantiasa berusaha meningkatkan taraf hidup rakyat yang berbasis Ekonomi Kerakyatan.

Hijau

Adalah lambang kesuburan dan kemakmuran, berarti Daerah Kabupaten Tolikara memiliki kekayaan alam dan potensi daerah yang sangat besar.

Putih

Adalah lambang kesucian, berarti Pemerintah Daerah dalam menjalankan tugasnya mengutamakan kejujuran dan keadilan sebagai dasar seluruh gerak langkah kehidupan dan perjuangan seluruh komponen.

Hitam

Adalah lambang pengabdian, berarti pemerintah daerah dengan kebulatan tekad dan rasa dedikasi yang tinggi serta penuh semangat melaksanakan semua tugas dengan sebaik-baiknya.

Merah

Adalah lambang keberanian dan patriotisme dalam menghadapi segala tantangan dan kendala pembangunan.

Slogan/ Moto Kabupaten Tolikara

Pada lambang Kabupaten Tolikara terdapat slogan/ moto “ NAWI ARIGI ” yang artinya “Kecintaan akan tanah kelahiran yang mendalam, membuat kita yang berada di Kabupaten Tolikara merasa memiliki dan ingin berbuat yang terbaik untuk Kabupaten “.

Kebijaksanaan Pembangunan

Sebagaimana kita maklumi bersama bahwa dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan serta tugas dalam mengatur dan mengurus rumah tangga daerah pada dasarnya merupakan pelaksanaan kebijaksanaan yang telah digariskan dalam Rencana Jangka Panjang yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan seluruh rakyat. Berpedoman pada Rencana Strategis (Renstra) Kabupaten Tolikara, tahun 2012 – 2017,  maka bidang – bidang prioritas adalah :

  1. Bidang  Ekonomi
  2. Bidang  SDA dan Lingkungan Hidup
  3. Bidang Kesejahteraan, Pendidikan dan Kesehatan
  4. Bidang Agama

Dan didukung oleh 4 ( empat ) bidang penunjang :

  1. Bidang Iptek
  2. Bidang Politik, Aparatur Negara, Komunikasi dan Media Massa.
  3.  Bidang Hukum
  4. Bidang Ketentraman dan Ketertiban

Latar Belakang Kabupaten Tolikara

Kota Karubaga
Kota Karubaga

Tolikara merupakan salah satu Kabupaten yang berada di antara beberapa Kabupaten yang ada di Pengunungan tengah Papua. Nama Tolikara tidak sekedar sebuah nama menurut para sejarah,Tolikara merupakan sebuah seruan bersarat makna,sebuah representative kemajemukan problem hidup masyarakat yang telah lama menjerit. Jeritan itu diabadikan dalam sebuah akronim TOLIKARA “Tolong Lihat Kami ini Rakyat

Sejak Distrik karubaga terbentuk pembangunan di semua sektor tidak mengalami perubahan yang signifikan karena jangkauan dan rentang kendali pembangunan Kabupaten Jawijaya sangat luas. Akibatnya semua Distrik rata – rata mengalami ketertinggalan dalam berbagai sektor pembangunan. Undang–undang Nomor 21 tahun 2001 tentang otonomi khusus bagi Provinsi Papua akhirnya memberikan peluang dan kesempatan yang besar untuk percepatan pembangunan di wilayah ini. Pada tahun 2002 Tolikara dimekarkan menjadi sebuah Kabupaten dari Kabupaten Induk Jayawijaya.

Pemekaran tersebut berdasarkan undang–undang Nomor. 26 tahun 2002 tentang pembentukan Kabupaten Tolikara, Kabupaten Sarmi,Kabupaten Kerom, Kabupaten Sorong selatan, Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Pengunungan bintang, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Waropen, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Boven digoel, Kabupaten Mapi, Kabupaten Asmat, Kabupaten Teluk bintuni, Kabupaten Teluk wondama.

Tanggal 07 Juni tahun 2002 menjadi hari bersejarah bagi lahirnya Kabupaten Tolikara. sejak itu berbagai lembanga pemerintahan dibentuk dan berbagai langkah awal pembangunan pun mulai dicanangkan.

Secara geografis, Kabupaten Tolikara terletak antara garis koordinat 138° 00’57” – 138°54’32” BT dan 2° 52’58” – 3° 51’2”LS. Dengan Luas Wilayah keseluruhan  ±14.560 km2.

Sejak terbentuknya Kabupaten Tolikara,hingga sampai saat ini usianya sudah mencapai 15 tahun dan roda pemerintahan telah di pimpin oleh beberapa tokoh pemerintahan dan tokoh politikus,pada kepemimpinan periode kedua ini 2012 – 2017 sedang dipimpin oleh tokoh pemerintahan anak asli Tolikara,kepemimpinan beberapa tokoh tersebut di uraikan sebangai berikut;

     Bupati Caretaker Pertama Drs. Billy Wilhelmus Jamlean Dilantik Oleh Menteri Dalam Negeri di Jakarta tahun 2002  dengan masa Jabatan dari tahun 2002 sampai dengan 2004 Saat  itu Kabupaten Tolikara dibagi dalam 10 Distrik dan 161 Kampung serta 4 Kelurahan. Sepuluh Distrik itu meliputi Distrik Karubaga, Goyage, Wunin, Bokondini Kembu, wina, Umagi, Panaga, Kanggime dan Woniki dengan Luas Wilayah keseluruhan  ±14.560 km2.,

Pada tahun 2004 dilantik lagi Bupati Caretaker kedua yaitu Drs. Frans R.Cristantus, MM dengan Masa Pemerintahan 2004 sampai Agustus 2005, karena Bupati Careteker pertama yaitu Drs. Billy Wilhelmus Jamlean Maju dalam Pemilihan Bupati kepala Daerah di Kabupaten Kerom

Bupati Definitif pertama hasil Pemilihan Umum kepala Daerah Pada tahun 2005 melalui Pemilihan Bupati  Kepala Daerah secara Langsung oleh rakyat maka terpilihlah Bupati dan Wakil kabupaten Tolikara yaitu DR. (HC ) Jhon Tabo, MBA dan Pdt. Mitien Towolom, STh sebagai Wakil Bupati, Yang dilantik oleh Gubernur Provinsi Papua yaitu  Barnabas Suebu,SH pada tahun 2005 di Karubaga. Dengan dilantiknya Bupati definitif  dengan masa Pemerintahan dari 2005 sampai dengan 2010, maka roda Pemerintahan telah berjalan dengan baik yaitu dimekarkannya sejumlah distrik menjadi 46 Distrik dan 541 Kampung pada tahun 2006

Pada  tahun 2010 dilantik Bupati Careteker lagi oleh Gubernur Provinsi Papua  Barnabas Suebu, SH yaitu W. Turnip, SH. MM  karena akan diadakan  Pemilihan Bupati Definitif ke dua, dengan Tugas utama yaitu:

  1. Mempersiapkan Pemilukada
  2. Melaksanakan Pemilukada dan Pelantikan Bupati / Wakil Bupati hasil   pemilukada
  3. Menyusun dan mengesahkan APBD 2011
  4. Pelaksanaan Pemerintahan dan Pembangunan Lainnya.

Berhubung  kesehatan Penjabat Bupati W. Turnip, SH. MM tidak mendukung maka beliau mengundurkan diri dan Gubernur Provinsi Papua selanjutnya menunjuk Pelaksana Tugas ( PLT ) Penjabat Bupati Kabupaten Tolikara yakni Ir. Yusmin Timang untuk melanjutkan roda pemerintahan sampai diangkatnya Drs. Alfons Sesa, MM sebagai Penjabat Bupati dengan mengemban tugas sebagai berikut :

  1. Melanjutkan / Memfasilitasi Persiapan Pemilukada
  2. Melaksanakan Pemilukada dan Pelantikan Bupati hasil pemilukada
  3. Pelaksanaan Pemerintahan dan Pembangunan.
Bupati-dan-wakil-Tolikara
Bupati Tolikara Usman G. wanimbo, SE, M.Si dan Wakil Bupati Tolikara Amos Yikwa, SP, M.Si

Bupati Definitif kedua hasil Pemilihan Umum kepala Daerah Pada tahun 2012 melalui Pemilihan Bupati  Kepala Daerah secara Langsung oleh rakyat maka terpilihlah Bupati Tolikara Usman G. Wanimbo, SE, M.SI Wakil Bupati Tolikara Amos Yikwa, SP, M.Si Yang dilantik oleh PLT Gubernur Provinsi Papua yaitu  Samsul Marif, MM pada 10 Juni tahun 2012 di Karubaga. Dengan dilantiknya Bupati definitif  dengan masa Pemerintahan dari 2012 sampai dengan 2017, maka roda Pemerintahan di bawah kepemimpinan Bupati Tolikara Usman G. Wanimbo, SE, M.SI dan Wakil Bupati Tolikara Amos Yikwa, SP, M.Si sudah berjalan lima tahun lebih dan selama lima tahun lebih tersebut Bupati dan Wakil Bupati definitif menjalankan pemerintahan dengan sukses,dengan dilakukannya perbaikan sistem pemerintahan yang benar, memekarkan beberapa tambahan Distrik persiapan baru, serta telah membangun infrastruktur dasar lainnya.

Pengunjung Tolikarakab.com

Followers